Rabu, 10 April 2013

Askep Hernia Pada Anak

Askep Hernia Pada Anak


BAB I
PENDAHULUAN
1.1              LATAR BELAKANG
Hernia, atau yang lebih dikenal dengan turun berok, adalah penyakit akibat turunnya buah zakar seiring melemahnya lapisan otot dinding perut. Penderita hernia, memang kebanyakan laki-laki, terutama anak-anak. Hernia yang terjadi pada anak-anak, lebih disebabkan karena kurang sempurnanya procesus vaginalis untuk menutup seiring dengan turunnya testis atau buah zakar. Sementara pada orang dewasa, karena adanya tekanan yang tinggi dalam rongga perut dan karena faktor usia yang menyebabkan lemahnya otot dinding perut. Ternyata penderita hernia seringkali disertai gangguan fungsi saluran cerna lainnya, hipersensitifitas kulit dan gangguan alergi lainnya. Meski penanganan hernia harus dioperasi tetapi pada sebagian kasus khususnya hernia inguinalis dan umbilikasis bila dilakukan penatalaksanaan penanganan alergi hipersentifitas saluran cerna sejak dini ternyata dapat membantu proseses perbaikan secara spontan.
Di Indonesia diperkirakan 102 ribu anak menderita penyakit hernia. Untuk data di jawa tengah, mayoritas usia penderita selama Januari-Desember 2007 berkisar antara 2-5 tahun, dengan rincian umur kurang dari 1 tahun sebanyak 51-211 penderita, dan umur 5 tahun berkisar antara 150.214 penderita. Oleh karena itu dalam mengatasi masalah tersebut, disinilah konsep asuhan keperawatan kita terapkan untuk meningkatkan kesehatan anak, sebagai salah satu masalah yang ditemukan pada anak adalah masalah bedah dari berbagai jenis tersebut salah satunya adalah kasus hernia yang memerlukan tindakan pembedahan, dimana menurut data RSCM pada 3 bulan terakhir dari 108 pasien dengan persentase (8%) dibandingkan dengan persentase penyakit bedah lainnya ( Ilham, 2008:17).
Untuk jumlah penderita di boyolali yaitu dipusatkan di RSUD Pandang arang tercatat 120 pasien yang mengalami hernia pada tahun 2009 ini. Dan para penderita sampai menjalani perawatan selama 5-8 hari. Meskipun jumlah penderita hernia mencapai ratusan menurut direktur rumah sakit pandan arang boyolali, sampai sejauh ini belum ada yang meninggal. Kepala dinas kesehatan dan sosial kabupaten boyolali mengatakan selama di RSUD Pandan Arang itu sendiri, di daerah juga ada yang menderita penyakit hernia seperti di daerah Manggung Cilik, Muluk, Wonosegoro dan Juwangi.(Rizky Julana, 2007:412).
1.2              RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas dapat dirumuskan masalah-masalah berikut ini :
1.      Pengertian hernia pada anak?
2.      Apa Etiologi hernia?
3.      Apa saja Klasifikasi hernia?
4.      Bagaimana tanda dan gejala hernia?
5.      Bagaimana Patofisiologi hernia?
6.      Bagaimana pathway hernia?
7.      Apa saja Manifestasi klinik hernia?
8.      Bagaimana Penatalaksanaan hernia?
9.      Apa saja Komplikasi hernia?
10.  Bagaiman pencegahan dan pengobatan pada kasus hernia?
11.  Apa saja Pemeriksaan laboratorium pada hernia?
12.  Apa saja diagnosa banding pada hernia?
13.  Bagaimana Askep konsep pada anak dengan hernia?
1.3              TUJUAN PENYUSUNAN
A.    Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas mata kuliah keperawatan anak II pada semester VI STIKES Muhammadiyah Lamongan.
B.     Tujuan Khusus
Agar mahasiswa mengetahui :
1.      Pengertian hernia pada anak?
2.      Apa Etiologi hernia?
3.      Apa saja Klasifikasi hernia?
4.      Bagaimana tanda dan gejala hernia?
5.      Bagaimana Patofisiologi hernia?
6.      Bagaimana pathway hernia?
7.      Apa saja Manifestasi klinik hernia?
8.      Bagaimana Penatalaksanaan hernia?
9.      Apa saja Komplikasi hernia?
10.  Bagaiman pencegahan dan pengobatan pada kasus hernia?
11.  Apa saja Pemeriksaan laboratorium pada hernia?
12.  Apa saja diagnosa banding pada hernia?
13.  Bagaimana Askep konsep pada anak dengan hernia?
1.4              MANFAAT
A.    Teoritis
      Sebagai dokumen ilmiah guna pengembangan pengetahuan tentang penyakit hernia.
B.     Praktis
      Sebagai bahan masukan dalam memberikan pelayanan kesehatan khususnya penanganan penyakit hernia.
BAB II
TINJAUAN  TEORI
2.1       PENGERTIAN
Dalam pengertian ini ada beberapa pendapat antara lain :
1.               Hernia adalah penonjolan abnormal dan jaringan atau organ intra abdominal sebagian atau seluruhnya melalui lubang atau defek dinding abdoman (lab/UPF Ilmu Bedah RSUD Dr. Soetomo, 1994 : 83)
2.               Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dari tempatnya yang normal melalui defek kongenital atau yang didapat (Long Barbara C, 1996 : 246)
3.               Hernia adalah prostitusidari organ melalui lubang defek-tif yang didapat atau kongenital pada dinding rongga yang secara normal berisi organ (Engram Barbara, 1999 : 21)
4.               Hernia adalah suatu keadaan menonjolnya isi usus suatu rongga melalui lubang (Oswari, 2000 : 216).
5.               Hernia inguinalis adalah hernia isi perut yang tampak di daerah sela paha (regio inguinalis). (Oswari, 2000 : 216)
6.               Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur melewati dinding rongga yang secara normal memang berisi bagian-bagian tersebut (Nettina, 2001 : 253).
2.2       ETIOLOGI
Hernia dapat terjadi karena ada sebagian dinding rongga lemah. Lemahnya dinding ini mungkin merupakan cacat bawaan atau keadaan yang didapat sesudah lahir, contoh hernia bawaan adalah hernia omphalokel yang terjadi karena sewaktu bayi lahir tali pusatnya tidak segera berobliterasi (menutup) dan masih terbuka.
Demikian pula hernia diafragmatika. Hernia dapat diawasi pada anggota keluarga misalnya bila ayah menderita hernia bawaan, sering terjadi pula pada anaknya. Pada manusia umur lanjut jaringan penyangga makin melemah, manusia umur lanjut lebih cenderung menderita hernia inguinal direkta. Pekerjaan angkat berat yang dilakukan dalam jangka lama juga dapat melemahkan dinding perut (Oswari. 2000 : 217).
Menurut Sabston David C. 1994 : 229 peningkatan tekanan intra abdomen akibat dari berbagai sebab antara lain :
a)               Pengejanan mendadak (pada waktu buang air besar)
b)               Gerakan badan yang terlalu aktif
c)               Obesitas
d)              Batuk menahun
e)               Asites
f)                Kehamilan dan adanya abdomen yang besar
2.3       KLASIFIKASI HERNIA
Menurut Sabiston, 1994 : 229 dan Long Barbara C, 1996 : 46)
1)        Menurut lokasinya dibagi menjadi :
a)      Hernia inguinalis yaitu suatu penonjolan bisa lateralis atau medialis. Pada lateralis anatominya regio menggambarkan 9 lapisan aspek antero alteral dinding abdomen, sedang medial anatominya terletak medial terhadap pembuluh-pembuluh darah epigrastika provunda.
b)      Hernia umbikalis yaitu suatu cacat konginetal atau akuisitas pada bayi dan anak kecil. Pada umbikalis anak kecil cenderung menutup secara spontan dalam dua tahun pertama.
c)      Hernia femoralis yaitu merupakan tingginya, maka seharusnya dioperasi bila kondisi pasien memungkinkan agar kantong hernia secara lengkap di ekuisi cukup tinggi supaya putung kantong terektrasi baik diatas ligamentum inguinale.
2)        Menurut isinya, terbagi atas :
a)      Hernia usus halus yaitu suatu penonjolan baik lateral maupun medial dimana organ yang turun berupa usus halus atau kolon.
b)      Hernia omentum yaitu suatu penonjolan baik alteral atau medial dimana organ yang turun berupa omentum.
3)   Menurut terlihat atau tidaknya, terbagi atas :
a)      Hernia interna yaitu hernia yang tidak terlihat, tetapi terjadi lubang alami.
Contoh : Hernia diafrakmatika, hernia di fomen Winslow, incaserasi dirasakan sebagai ilius, hernia diliganentum treuz dan hernia di foramen obduratria.
b)      Hernia eksterna yaitu penonjolan yang terlihat dari luar yang terus membesar disebabkan karena batuk kronis.
Contoh : Hernia inguinalis lateralis, hernia femoralis, hernia umbilicalis, hernia epigastricalis dan hernia prienalis.
4)   Menurut kausanya, terbagi atas :
a)      Hernia konginetal yaitu hernia yang disebabkan oleh kegagalan penutupan prosesus vaginalis (kantong hernia) sewaktu turun kedalam skortum.
b)      Hernia traumatic yaitu hernia yang tidak mutlak diperlukan pembedahan dan bila diperlukan pembedahan terjadi trauma misal : pada hernia umbikalis.
c)      Hernia incisional yaitu hernia dimana timbul karena terjadi setelah diinsisi dan biasanya terjadi karena kurang kuatnya organ yang telah diinsisi.
5)   Menurut keadaannya, terbagi atas :
a)      Hernia reponibilis yaitu suatu hernia yang dapat keluar masuk cavum abdomen.
b)      Hernia irreponibilis yaitu suatu hernia yang tidak dapat masu cavum abdomen, tetapi tetap di kantongnya.
c)      Hernia incarserata yaitu hernia yang tidak dapat direposisi ke dalam kavitas abdominalis.
d)     Hernia stragulasta yaitu berawalan dari hernia incarserata karena pembengkakan progresif isi incarserata bisa timbul sebagai hasil obstruksi vena dan pembuluh limfe di leher kantong.
6)       Beberapa hernia lainnya :
a)      Hernia pantolen yaitu hernia inguinalis dan hernia femoralis yang terjadi pada suatu sisi dan dibatasi oleh vaso epigastrika inferior.
b)      Hernia scrotalis adalah hernia inguinalis yang isinya masuk scotum secara lengkap.
c)      Hernia littre yaitu hernia yang isinya diverticulum meckeli.
Dari jenis hernia yang paling umum di derita oleh anak. Hernia yang sering menyerang pada anak yakni hernia inguinalis dan hernia umbilikalis.
2.4       TANDA DAN GEJALA
- Benjolan di lipatan paha.
Biasanya akan timbul bila berdiri, batuk, bersin, mengejan atau mengangkat barang-barang berat. Benjolan itu akan hilang bila penderita berbaring. Tidak ada keluhan nyeri. Nyeri akan terasa bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia yang mengakibatkan pembuluh darah disekitarnya terjepit. Pada anak-anak, terjepitnya isi hernia lebih sering terjadi pada usia kurang dari 2 tahun.
-  Anak menangis dan gelisah
Si kecil akan mudah menangis dan terus menerus terlihat gelisah. Benjolan di lipatan paha tersebut juga akan terlihat hilang timbul ketika si kecil menangis.
-  Terasa nyeri
Bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia, maka akan terasa nyeri. Apalagi bila akhirnya terjadi infeksi, penderita akan merasakan nyeri yang hebat, dan infeksi tersebut akhirnya menjalar kemana-mana serta meracuni seluruh tubuh. Jika sudah terjadi keadaan seperti ini, maka disebut gawat darurat yang harus segera ditangani, karena dapat mengancam nyawa penderita.
2.5       PATOFISIOLOGI
Menurut Lab/UPF Ilmu Bedah RSUD Dr. Soetomo, 1994 : 83 dan Long Barbara C, 1996 : 246 faktor penunjang yang menyebabkan terjadinya hernia inguinalis lateralis adalah :
a)    Faktor bawaan (faktor interna)
Terdapat hubungan antara cavum abdomen dengan scrotum (timbulnya lubang alami) disebabkan canalis inguinalis terbuka terus karena proses vaginalis tidak berobliterasi.
b)   Faktor didapat (faktor eksterna)
Fasia abdomen terkoyak akibat mengejan, batuk kronis, mengangkat barang berat, menangis terus pada anak kecil.
Hernia yang disebabkan oleh faktor bawaan akan timbul hernia inguinalis kongiteral, sedangkan yang menyebabkan tekanan intra abdomen meningkat, yang dapat menyebabkan vasia abdomen terkoyak akan menyebabkan hernia inguinalis lateralis akuistika.
Hernia inguinalis lateralis konginetal dan skuistika bila hernianya dapat keluar dari anulus internus melalui canalis inguinalis dan masuk ke dalam scrotum disebut hernia inguinalis completa (hernia scrotalis) sedangkan bila benjolan hanya sampai pada anulus interna disebut hernia inguinalis lateralis incopleta.
Hernia scotalis dapat bersifat reponibilis (hernia dapat keluar masuk caviun abdomen) clan bersifat peponibilis (hernia tidak dapat masuk kembali ke dalam cavum abdomen tetapi berada di kantongnya).
Penekanan pada hernia ring (anulus anternus) dapat menimbulkan beberapa akibat antara lain :
1.      Akibat lokal
a)    Oedema karena saluran limphe terbendung.
b)   Pada suatu saat tekanan daerah oedema sama dengan tekanan arteri sehingga arteri terbendung akibatnya suplei darah berhenti sehingga timbul nekrosis dari usus yang terjepit tadi.
c)    Kemudian terjadi infeksi serta timbul abses yang berakibat fatal bagi klien.
2.      Akibat umum
a)    Pasien tidak dapat minum dan muntah sehingga klien kekurangan cairan dan elektrolit.
b)   Selain muntah dan sekresi dari usus yang melebar sehingga memebratkan dehidrasi yang sudah terjadi.
c)    Terjaid absorbsi bahan-bahan toksit dari usus ke dalam tubuh.
d)   Terjadi ischema pada usus yang akhirnya timbul paralise.
2.6       PATHWAY
2.7      MANIFESTASI KLINIS
1)   Tampak benjolan di lipat paha.
2)   Bila isinya terjepit akan menimbulkan perasaan sakit di tempat itu disertai perasaan mual.
3)   Bila terjadi hernia inguinalis stragulata perasaan sakit akan bertambah hebat serta kulit di atasnya menjadi merah dan panas.
4)   Hernia femoralis kecil mungkin berisi dinding kandung kencing sehingga menimbulkan gejala sakit kencing (disuria) disertai hematuria (kencing darah) disamping benjolan di bawah sela paha.
5)   Hernia diafragmatika menimbulkan perasaan sakit di daerah perut disertai sasak nafas.
6)   Bila pasien mengejan atas batuk maka benjolan hernia akan bertambah besar. (Oswari, 2000 : 218)
2.8     PENATALAKSANAAN
a)    Dengan resposisi secara manual.
b)   Dengan memakai sabuk hernia untuk penderita yang tidak memerlukan tindakan bedah.
c)    Herniografi (bedah perbaikan hernia) Adalah di seksi dari kantung hernia dan di kembalikan pada susunan semua pada cavum abdomen.
d)   Hernioplash adalah perbaikan pada jaringan yang lemah sehingga menguatkan dengan kawat jalinan baju / tascia.
e)    Pemberian analgesik pada hernia yang menyebabkan nyeri.
2.9    KOMPLIKASI
1.    Terjadi perlengketan antara isi hernia dan dinding kantung hernia sehingga isi hernia tidak dapat di masukkan kembali.
2.    Terjadi penekanan terhadap cincin hernia akibat banyak unsur yang masuk.
2.10   PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN
1.       Operasi
Sebelum anak mencapai usia satu tahun, biasanya belum dilakukan tindakan operasi. Diharapkan, lubang yang berupa saluran itu akan menutup sendiri mengikuti pertumbuhannya. Namun, jika setelah berusia satu tahun, lubang masih terbuka, dokter akan menganjurkan operasi. Tindakan ini ditujukan untuk menutup lubang. Bila dibiarkan begitu saja, maka lubang tersebut dapat bertambah besar. Ketika anak mulai berjalan dan beraktivitas, lubang tadi dapat terus membesar akibat dorongan terus-menerus. Akibatnya, tidak hanya cairan yang keluar, usus pun dapat keluar, sehingga berlanjut menjadi hernia.
2.        Menggunakan Korset/penyangga
Tidak semua hernia harus dioperasi. Bila masih dapat dimasukkan kembali, maka tindakan yang bisa dilakukan adalah menggunakan penyangga/ penunjang/ korset untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. Pada anak-anak atau bayi, reposisi spontan dapat terjadi karena cincin hernia pada anak lebih elastis. Bila sudah tidak dapat direposisi, maka satu-satunya tindakan yang harus dilakukan adalah dengan operasi.
3.        Hindari hal-hal yang memicu tekanan di dalam rongga perut
Untuk mencegah terjadinya kekambuhan, hindarkan anak dari hal-hal yang memicu tekanan di dalam rongga perut, misalnya batuk dan bersin yang kuat, konstipasi (sembelit), mengejan, serta mengangkat barang berat. Usahakan anak tidak mengejan kuat ketika buang air kecil atau besar. Jelaskan pada anak mengenai risiko batuk dan mengejan. Anda pun bisa menggunakan kondisi ini sebagai alasan agar anak menghindar terlalu banyak permen (menghindari batuk), makan banyak buah agar buang air besarnya mudah.
2.11     PEMERIKSAAN LABORATORIUM
a.  Sinar X abdomen menunjukkan abnormalnya kadar gas dalam usus/ obstruksi usus.
b. Hitung darah lengkap dan serum elektrolit dapat menunjukkan hemokonsentrasi   (peningkatan hemotokrit), peningkatan sel darah putih dan ketidak seimbangan elektrolit.
2.12          DIAGNOSA BANDING
1)      Hidrokel punya batas jelas,iluminasi positif dan tidak dapat di masukkan.
2)      Limfadenopati inguinal.
3)      Testis ektropik.
4)      Lipoma / hernialis.
5)      Orkitis.
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK
DENGAN HERNIA
3.1      PENGKAJIAN
1.      Identitas Klien :
Hernia bisa terjadi pada anak, dewasa yang melakukan aktifitas berlebihan , melakukan pengangkatan benda berat, yang terjadi pada anak usia 2-5 tahun.
2.      Keluhan utama :
Nyeri dan ada benjolan di inguinal.
3.      Riwayat penyakit sekarang :
Klien mengeluh nyeri, ada benjolan ,mual muntah.
4.      Riwayat penyakit sebelumnya :
Wawancara di tunjukan untuk mengetahui penyakit yang di derita klien.
5.      Riwayat psiko,sosio, dan spiritual :
Klien masih berhubungan dengan temannya dan bermain seperti biasanya, klien masih dapat berkomunikasi dengan orang tuanya. Bagaimana dukungan keluarga dalam keperawatan agar membantu dalam proses penyembuhan.
6.      Riwayat tumbuh kembang :
a.         Prenatal : Ditanyakan apakah ibu menderita infeksi atau penyakit kronik lain.
b.         Antenatal : Ditanyakan Siapa penolong persalinan karena data ini akan membantu membedakan persalinan yang bersih / higienis atau tidak. Alat pemotong tali pusat, tempat persalinan.
c.         Postnatal : Ditanyakan apakah setelah lahir langsung diberikan imunisasi apa tidak.
d.         Riwayat imunisasi
Tanyakan pada keluarga apakah anak mendapat imunisasi lengkap.
Usia <7 hari anak mendapat imunisasi hepatitis B         
Usia 1 bulan anak mendapat imunisasi BCG dan Polio I
Usia 2 bulan anak mendapat imunisasi DPT/HB I dan Polio 2
Usia 3 bulan anak mendapat imunisasi DPT/HB II dan Polio 3
Usia 4 bulan anak mendapat imunisasi DPT/HB III dan Polio 4
Usia 9 bulan anak mendapat imunisasi campak
7.      ADL (Activity Daily Living)
·         Nutrisi.
Klien mengalami mual muntah.
·         Aktivitas/istirahat
Gejala :
Sebelum MRS:
- Pasien sering melakukan aktivitas yang berlebihan, sering melompat, ataupun terjatuh dari ketinggian.
Sesudah MRS:
- Membutuhkan papan/matras yang keras saat tidur.
- Penurunan rentang gerak dan ekstremitas pada salah satu bagian  tubuh.
- Tidak mampu melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan.
Tanda :
- Atrofi otot pada bagian tubuh yang terkena.
- Gangguan dalam berjalan.
·          Eliminasi.
Gejala :
- Konstipasi, mengalami kesulitan dalam defekasi.
- Adanya retensi urine.
·         Istirahat tidur.
Penurunan kualitas tidur.
·         Personal Higiane.
Penurunan kebersihan diri , ketergantungan.
·         Integritas Ego
Gejala : ketakutan akan timbulnya paralisis, ansietas, masalah pekerjaan finansial keluarga
Tanda :  tampak cemas, depresi, menghindar dari keluarga/orang terdekat
·         Kenyamanan
Gejala : nyeri seperti tertusuk pisau, yang akan semakin memburuk dengan adanya batuk, bersin, defekasi, nyeri yang tidak ada hentinya, nyeri yang menjalar ke kaki, bokong, bahu/lengan, kaku pada leher.(Doenges, 1999 : 320-321)
8.      Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : Lemah.
TTV =   TD : Normal / hipertensi (n: 120/80 mmHg).
              Suhu : Hipotermi (n: 36 o C- 37 o C).
              Nadi : Tachicardi (n: 80-120 x/mnt).
              RR : Normal / meningkat (n: 30-60 x/mnt).
a)      Kepala dan leher
Inspeksi : Ekspansi wajah menyeringai, merintih, menahan sakit.
     Rambut : Lurus/keriting, distribusi merata/tidak, warna, Ketombe, kerontokan
Mata : Simetris / tidak, pupil isokhor, skelara merah muda, konjunctiva tdk   anemis
     Hidung : Terdapat mukus / tidak, pernafasan cuping hidung.
     Telinga : Simetris, terdapat mukus / tidak,.
                        Bibir : Lembab,tidak ada stomatitis.
Palpasi : Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan limfe pada leher.
9.      Dada :
Inspeksi   : Simetris,tidak terdapat tarikan otot bantu pernafasan
Palpasi      : Denyutan jantung teraba cepat, badan terasa panas, nyeri tekan(-)
Perkusi     : Jantung : Dullness
Auskultasi : Suara nafas normal.
10.  Abdomen
Inspeksi   : terdapat benjolan ingunalis
-
-
-
-
+
-
+
+
+
Palpasi     : Teraba massa, terdapat nyeri tekan pada daerah inguinalis
Perkusi     : dullnes
Auskultasi : Terdengar bising usus.(n= <5 per menit)
+
+
+
+
11.  Ekstremitas
Atas : simetris, tidak ada odem
Bawah : simetris, tidak ada odem
12.  Pemeriksaan penunjang :
a.       Sinar X abdomen menunjukkan abnormalnya kadar gas dalam usus/ obstruksi usus.
b.      Hitung darah lengkap dan serum elektrolit dapat menunjukkan hemokonsentrasi (peningkatan hemotokrit), peningkatan sel darah putih dan ketidak seimbangan elektrolit.
3.2    DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.               Mobilitas fisik berhubungan dengan paralise.
2.               Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah.
3.               Nyeri berhubungan dengan terputusnya integritas jaringan.
3.3  RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
1.    Mobilitas fisik berhubungan dengan paralise.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan mobilitas pasien membaik atau sembuh.
Kriteria hasil :
K :  Pasien dapat melakukan aktifitas dengan baik.
A :  Mendemonstrasikan teknik/perilaku yang mungkin.
P :   Mengungkapkan pemahaman tentang situasi/faktor resiko dan aturan  pengobatan  individual.
5
5
5
5
P :   Mempertahankan/meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang sakit dan kompensasi, klien bisa melakukan aktifitas tanpa bantuan, bisa melakukan perawatan diri, kekuatan otot:
Intervensi :
1.        Catat respon-respon emosi/perilaku pada imobilisasi.
2.        Berikan tindakan pengamanan sesuai indikasi dengan situasi yang spesifik.
3.        Berikan/bantu pasien untuk melakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif.
4.        Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulasi progresif.
5.        Anjurkan pasien untuk melatih kaki bagian bawah/lutut.
6.        Berikan obat untuk menghilangkan nyeri kira-kira 30 menit sebelum memindahkan/melakukan ambulasi pasien.
Rasional :
1.        Imobilisasi yang dipaksakan dapat memperbesar kegelisahan, peka rangsang.
2.        Tergantung pada bagian tubuh yang terkena/jenis prosedur, aktivitas yang kurang berhati-hati akan meningkatkan kerusakan spinal.
3.        Memperkuat otot abdomen dan fleksor tulang belakang, memperbaiki mekanika tubuh.
4.        Keterbatasan aktivitas bergantung pada kondisi yang khusus tetapi biasanya berkembang dengan lambat sesuai toleransi.
5.        Stimulasi sirkulasi vena/arus balik vena menurunkan keadaan vena yang statis dan kemungkinan terbentuknya trombus.
Antisipasi terhadap nyeri dapat meningkatkan ketegangan otot. Obat dapat merelaksasikan pasien, meningkatkan rasa nyaman dan kerjasama pasien selama melakukan aktivitas.
2.      Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan nutrisi pasien terpenuhi.
Kriteria hasil :
K :  Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan lengkap.
A :  Mendemonstrasikan pemeliharaan/kemajuan peningkatan berat badan sesuai tujuan.
P :  Menyatakan kondisi tubuh membaik.
P :  Tidak mengalami tanda-tanda malnutrisi, dengan nilai laboratorium dalam rentang  normal, berat badan meningkat, albumin (n:11.000-16.000gr/dl), turgor kulit (n:<2 detik).
Intervensi :
1.        Kaji kemampuan pasien untuk mengunyah, menelan, batuk, dan mengatasi sekresi.
2.        Timbang berat badan sesuai indikasi.
3.        Jaga keamanan saat memberikan makan pada pasien.
4.        Berikan makan dalam jumlah kecil dan dalam waktu yang sering dengan teratur.
5.        Tingkatkan kenyamanan, lingkungan yang santai termasuk sosialisasi saat makan. Anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai pasien.
6.        Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian nutrisi terhadap pasien.
Rasional :
1.        Faktor ini menentukan pemilihan terhadap jenis makanan sehingga pasien harus terlindung dari aspirasi.
2.        Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi.
3.        Menurunkan resiko regurgitasi dan terjadinya aspirasi.
4.        Meningkatkan proses pencernaan dan toleransi pasien terhadap nutisi yang diberikan dan dapat meningkatkan kerjasama pasien saat makan.
5.        Meskipun proses pemulihan pasien memerlukan bantuan makan dan menggunakan alat bantu, sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makan.
6.        Merupakan sumber yang efektif untuk mengidentifikasi kebutuhan kalori/nutrisi tergantung pada usia, berat badan, ukuran tubuh, keadaan penyakit sekarang.
3.      Nyeri berhubungan dengan terputusnya intergitas jaringan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan nyeri berkurang atau hilang.
Kriteria Hasil :
K : Dapat mengetahui tentang penyebab nyeri.
A : Berpartisipasi dalam aktivitas/perilaku mengurangi nyeri.
P : Menyatakan nyeri hilang/ terkontrol.
P : Nyeri berkurang skala 1-2, menunjukkan dengan menurunnya ketegangan dan rileks, TTV (n:160/80 mmHg),
Intervensi :
1.        Identifikasi karakteristik, lokasi, lama  nyeri (dengan skala 0-10).
2.        Anjurkan klien istirahat ditempat  tidur.
3.        Atur posisi pasien senyaman mungkin.
4.        Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam.
5.        Kolaborasi untuk pemberian analgetik.
Rasional :
1.        Identifikasi karakteristik nyeri dan faktor yang berhubungan penting untuk memilih intervensi yang efektif.
2.        Istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri.
3.        Posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta mengurangi nyeri.
4.        Relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman.
5.        Analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien menjadi lebih nyaman.
BAB IV
PENUTUP
4.1       KESIMPULAN
1.   Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur melewati dinding rongga yang secara normal memang berisi bagian-bagian tersebut (nettina, 2001 : 253).
2.   Hernia dapat terjadi karena ada sebagian dinding rongga lemah. Lemahnya dinding ini mungkin merupakan cacat bawaan atau keadaan yang didapat sesudah lahir, contoh hernia bawaan adalah hernia omphalokel yang terjadi karena sewaktu bayi lahir tali pusatnya tidak segera berobliterasi (menutup) dan masih terbuka.
3.   Menurut sabiston, 1994 : 229 dan long barbara c, 1996 : 46), hernia dibagi menjadi:
a.    Menurut lokasinya dibagi menjadi : Hernia inguinalis, hernia umbikalis, hernia femoralis.  
b.    Menurut isinya, terbagi atas : Hernia usus halus, hernia omentum
c.    Menurut terlihat atau tidaknya, terbagi atas : Hernia interna, hernia eksterna
d.    Menurut kausanya, terbagi atas : Hernia konginetal, hernia traumatic, hernia incisional.
e.     Menurut keadaannya, terbagi atas : Hernia reponibilis, hernia irreponibilis, hernia incarserata, hernia stragulasta.
f.     Beberapa hernia lainnya : Hernia pantolen, hernia scrotalis, hernia littre.
4.   Tanda dan gejala adalah adanya benjolan di lipatan paha, anak menangis dan gelisah, terasa nyeri.
5.   Patofisiologi
Menurut lab/upf ilmu bedah rsud dr. Soetomo, 1994 : 83 dan long barbara c, 1996 : 246 faktor penunjang yang menyebabkan terjadinya hernia inguinalis lateralis adalah:
a.       Faktor bawaan (faktor interna)
b.      Faktor didapat (faktor eksterna)
6.   Manifestasi klinis yaitu tampak benjolan di lipat paha, bila isinya terjepit akan menimbulkan perasaan sakit di tempat itu disertai perasaan mual, bila terjadi hernia inguinalis stragulata perasaan sakit akan bertambah hebat serta kulit di atasnya menjadi merah dan panas, hernia femoralis kecil mungkin berisi dinding kandung kencing sehingga menimbulkan gejala sakit kencing (disuria) disertai hematuria (kencing darah) disamping benjolan di bawah sela paha, hernia diafragmatika menimbulkan perasaan sakit di daerah perut disertai sasak nafas, bila pasien mengejan atas batuk maka benjolan hernia akan bertambah besar. (oswari, 2000 : 218).
7.   Pelaksanaannya adalah dengan resposisi secara manual, dengan memakai sabuk hernia untuk penderita yang tidak memerlukan tindakan bedah, herniografi (bedah perbaikan hernia) adalah di seksi dari kantung hernia dan di kembalikan pada susunan semua pada cavum abdomen, hernioplash adalah perbaikan pada jaringan yang lemah sehingga menguatkan dengan kawat jalinan baju / tascia, pemberian analgesik pada hernia yang menyebabkan nyeri.
8.   Komplikasi hernia adalah terjadi perlengketan antara isi hernia dan dinding kantung hernia sehingga isi hernia tidak dapat di masukkan kembali, terjadi penekanan terhadap cincin hernia akibat banyak unsur yang masuk.
9.   Pencegahan dan pengobatan bisa dilakukan dengan Operasi, menggunakan korset/penyangga, dan hindari hal-hal yang memicu tekanan di dalam rongga perut.
10. Pemeriksaan laboratorium meliputi:
a.  Sinar x abdomen menunjukkan abnormalnya kadar gas dalam usus/ obstruksi usus.
b.    Hitung darah lengkap dan serum elektrolit dapat menunjukkan hemokonsentrasi (peningkatan hemotokrit), peningkatan sel darah putih dan ketidak seimbangan elektrolit.
11. Diagnosa banding hernia adalah hidrokel punya batas jelas,iluminasi positif dan tidak dapat di masukkan, limfadenopati inguinal, testis ektropik, lipoma / hernialis, orkitis.
4.2       SARAN
Dengan adanya makalah ini diharapkan kita sebagai seorang perawat mampu mendiagnosis secara dini mengenai penyakit hernia pada anak, sehingga kita mampu memberikan asuhan keperawatan yang maksimal terhadap anak tersebut.
Tentunya dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan sehingga kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan.
DAFTAR PUSTAKA.
-          Barbara Engran (1999) , Rencana Asuhan Kepera3watan Medical Bedah Volum 1 , EGC, Jakarta.
-          Doengoes ME (2000), Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3, EGC , Jakarta.
-          Ester, M., 2001, Keperawatan Medikal Bedah, EGC. Jakarta.
-          http://zaa23.wordpress.com/2009/05/13/hernia-inguinalis-pada-anak/
-          http://adydech.blogspot.com/2010/12/asuhan-keperawatan-anak-pada-pasien.html
-          Long, B.C. 1999, Perawatan Medikal Bedah, Volume 3, Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan padjajaran Bandung.
-          Nettina, S.M, 2001, Pedoman Praktik Keperawatan, EGC. Jakarta Oswari, E. 2000, Bedah dan Perawatannya, FKUI. Jakarta.
-          Purnawan Djunaidi dkk (1999) , Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3, Media Ausculapius FKUI , jakarta.